Memilih Mainan Si Kecil
Usia 5 tahun pertama adalah usia yang sangat menentukan bagi seorang anak. Usia ini biasa disebut dengan Golden Age atau usia emas. Mengapa disebut Usia Emas?hal ini dikarenakan pada usia itu aspek kognitif, fisik, motorik, dan psikososial seorang anak berkembang secara pesat. Nah untuk itu diperlukan stumulasi-stimulasi yang mampu mengoptimalkan seluruh aspek tersebut agar seorang anak kelak juga mampu menjadi pribadi yang matang sehingga kelak mampu menjadi pribadi yang matang, bertanggung jawab, mampu menghadapi segala permasalahan dalam hidupnya.
Salah satu cara mengoptimalkan kemampuan kognitif, fisik, motorik, dan psikososial seorang anak adalah dengan menstimulasi nya, salah satu alat ataupun sarana menstimulasinya adalah dengan mainan ataupun permainan.
Pada dasarnya mainan mempunyai manfaat antara lain:
- Untuk mengoptimalkan perkembangan fisik dan mental anak.
- Memenuhi kebutuhan emosi anak
- Mengembangkan kreatifitas dan kemampuan bahasa anak.
- Serta membantu proses sosialisasi anak.
Selain itu dalam memilih mainan paling tidak ada 2 hal yang perlu diperhatikan (Fawzia aswin dosen UI):
- Mainan yang baik itu punya manfaat tertentu sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak
- Mampu membuat anak asyik dan aktif bermain yang meliputi, barangnya awet, aman (tidak mengelurkan suara yang keras dan tidak ada bagian yang mudah tertelan atau terhisap, tidak tajam, tidak menjepit, tidak menimbulkan api dan tidak beracun).
Memilih mainan buat si kecil ternyata gampang-gampang susah, apalagi yang beredar di pasaran jenisnya macam-macam. Untuk itu diperlukan sikap hati hati dan bijaksana. Pertanyaannya kemudian jenis mainan macam apa yang cocok untuk usia tertentu??
Untuk memilih mainan yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak, bisa dibagi menjadi 3:
1. Mainan untuk tahap sensorik motorik (0-2 th)
Pada tahap ini anak sudah bisa menikmati gerakan demi gerakan, dalam taraf belajar menguasai dan mengkoordinasikan ketrampilan motorik halus dan motorik kasar. Dalam bermain anak mulai mempraktekan dan mengendalikan gerakanya serta menggali pengalaman dengan penglihatan, suara, sentuhan (tahap bermain penguasaan/mastery play).
Jadi sejak usia 2-3 bulan ketika anak sudah mulai bisa diajak berkomunikasi atau bereaksi terhadap keadaan sekitarnya (ex:gerakan tangan atau permainan mimic sang ibu)maka anak sudah bisa diberi mainan.
#Pada tahap ini mainan sebaiknya yang tahan banting, tidak mudah tertelan, mengandung unsur warna tapi tidak beracun, bisa di gigit-gigit, di banting, di putar2x atau di pukul2x.
>Mainan yang bisa mengembangkan sensorik, merangsang gerakan dan konsentrasi mata serta belajar menggapai dan mengenalkan warna ex: mainan yang digantung di boks dengan berbagai warna.>Mainan yang bisa membantu perkembangan motorik halus dan kasar, mainan yang bisa membuat anak menggerakkan seluruh anggota badan., ex:motorik halus=bola, kantong berisi biji-bijian, kardus dengan berbagai ukuran etc, motorik halus=lilin (was), air, pasir, pazel sederhana.
Selepas ini perkembangan anak tidak berhenti sampai disini, maka perlu diperkaya lagi sesuai dengan perkembangan kemapuan motoriknya tersebut misalnya dengan sepeda roda tiga, menyusun manik etc.
2. Mainan tahap pra operasional (2-7th)
Pada tahap ini anak sudah menggunakan symbol dan bermain mempelajari bahasa dan belajar membuat sesuatu, ex: Anak usia 3th,lebih suka bermain dalam kelompok kecil dan mempelajari kehidupan dengan permainan berpura-pura (make belive play) anak juga mulai dapat mengucapkan kalimat sederhana tentang sesuatu yang dilihatnya dalam gambar dan bertanya jawab oleh karena itu diperlukan orang tua yang mau bercerita pada anak soal apa saja yang di lihat di dengar bahkan yang dirusaknya.
selain itu pada tahap ini anak mulai mempraktekan beberapa ketrampilan barunya seperti menamai, mencocokan, menebak, atau membandingkan.
Anak juga menyukai aktifitas fisik, bergerak kesana-kemari untuk mengembangkan motorik kasar dan halus seperti belajar masuk, keluar, naik turun.
Anak mulai memerlukan neteri kreatif maka diperlukannya alat-alat bermain yang bersifat edukatif (APE, contoh:
Untuk mengenalkan pada alam bisa dengan: kaca pembesar, air, pasir, tempat makan burung, berbagai daun dan bunga dan mainan yang berasal dari alam.
Untuk mengenal penjumlahan bisa dengan: papan dengan kartu nomor, wadah dengan berbagai bentuk dan ukuran, benda-benda kecil untuk di hitung, atau kertas/gambar bertuliskan angka.
Untuk mengenalkan panca indera bisa dengan : mainan yang berbau, bisa dicium, bisa juga dari makanan yang memiliki aneka rasa(manis, asam , asin), kotak berlubang untuk meraba benda di dalamnya.
3. Mainan untuk tahap operasional (7tn > )
Pada tahap ini diperlukan mainan yang yang menumbuhkan atau mengembangkan kretifitas dan sosiali anak, untuk itu bisa diberikan mainan yang sifatnya manipulatif seperti : mainan seni : lilin (was), kertas yang disertai lem (kolase=menempel), cat air, cat tangan etc, Seni musik : instrument musik bikinan sendiri, mengenal bentuk dan ukuran: kubus, kerucut, tabung, binatang, orang-orangan, rumah besrta perabotnya. Mengenalkan kendaraan: kereta dari kulit jeruk etc
Agar kreatifitas anak tumbuh dan berkembang harus pula diciptakan pola bermain dalam satu kesatuan dengan keluarga yaitu bisa dengan mengajak anak2x secara bersama-samaa bermain yang melibatkan proses kreatif (ex membuat kue, berkebun etc). Mainan yang melatih proses bersosialisasi seperti dakon (congklak), lempatan, kelereng, bentik.
PENTINGNYA PERAN ORANG TUA
Peran mainan dalam perkembangan anak sebenarnya cuma sebagai alat bantu bukan sebagai pengganti peran orang tua. Di satu pihak mainan itu penting bagi si anak tapi di lain pihak mainan bukan segala-galanya buar anak (kak seto).
Jadi dalam bermain sebetulnya anak tetap memerlukan pendamping namun keterlibatan orang tua secara berlebihan juga kurang baik sebab tujuan memberikan mainan malah tidak tercapai.
# Yang namanya alat bermain tidak harus mainan, bahkan buku pun bisa dijadikan sebagai alat bermain missal di susun2x menjadi terowongan. Setelah anak senang maka citra buku akan jadi positif sehingga mulailah anak lihat gambarnya lalu ortu membacakannya sehingga lama-lama I kecil akan senang membaca.
# Mainan untuk balita tidak terlalu memperhatikan gender karena seiring dengan perkembangan secara alamiah akan tau sendiri.
# Mainan yang berteknologi canggih yang harganya mahalpun tidak tidak perlu terlalu dicurigai seperti mainan video game dll, juga punya sisi baik yaitu melatih koordinasi otot mata dan tangan , pemecahan masalah (strategi) karena didalamnya bisa mengembangkan kemampuan kognitif anak, maksutnya anak di tuntutmengatur strategi untuk menyelesaikan permaian dengan baik, walaupun mainan ini sangat kurang dalam sisis soaial atao kurang melatih anak untuk bersosialisasi.
# Ada baiknya ortu juga berkompromi dengan anak dalam memilih mainan yang di berikan benar-benar bisa dipakai bermain dan bermanfaat dan dijelaskan pada anak mengapa mainan yang diminta naka tidak diberikan sehingga anak diajak bernalar.
(disadur dari blog sebelah)
Permainan Edukatif Untuk Sikecil
Menjelang usia dua tahun si kecil seringkali gemar mengajak boneka kesayangannya ‘bicara’. Anda tak perlu cemas menghadapi hal ini, sebab semua anak akan melalui tahap yang disebut animisme ini, di mana anak cenderung menganggap benda mati sebagai benda hidup. Melalui tahap inilah sebenarnya si kecil belajar mengekspresikan dirinya. Si boneka disayang, dimarahi, digendong dan dicium, dll.
Menjelang usia tiga tahun si kecil tampak antusias bermain pura-pura, ini juga merupakan tahapan yang normal. Melalui permainan pura-pura ini si kecil berkesempatan mengembangkan daya imajinasinya.
Permainan Edukatif
Melalui bermain, si kecil dapat belajar banyak hal. Untuk meningkatkan kecerdasannya beberapa permainan edukatif perlu disediakan. Untuk itu Anda perlu agak selektif dalam memberi mainan pada anak. Mainan yang baik pada dasarnya adalah mainan yang dapat membuat si kecil “menjelajah”.
Melalui bermain, si kecil dapat belajar banyak hal. Untuk meningkatkan kecerdasannya beberapa permainan edukatif perlu disediakan. Untuk itu Anda perlu agak selektif dalam memberi mainan pada anak. Mainan yang baik pada dasarnya adalah mainan yang dapat membuat si kecil “menjelajah”.
Di antaranya, mainan untuk sarana meniru kegiatan orang dewasa (boneka lengkap dengan pakaian dan rumahnya, alat dokter-dokteran, alat-alat tukang, alat-alat rumah tangga), mainan untuk merangsang seni kreatif si kecil (krayon, bahan cat jari, pinsil berwarna, kapur, cat air, kertas berwarna), mainan untuk meningkatkan kepekaan si kecil terhadap musik (drum, tambur, kimbal, gitar), mainan yang mengajarkan angka-angka (dadu, mainan jam, domino), mainan konstruktif (balok-balok berbagai ukuran dari kayu maupun plastik), mainan untuk mengasah kepekaan sensorik (puzzle, peg-board), mainan untuk mendekatkan si kecil pada hal-hal yang berbau ilmiah (kaca pembesar, magnit, prisma), mainan yang merangsang aktivitas fisik si kecil sekaligus pengenalan gerak (ayunan, perosotan, sepeda roda tiga, bola, terowongan dari drum).
Sumber: Buklet Milna “Agar Si kecil Tumbuh Sehat dan Cerdas
Upaya Pengembangan Kreativitas dan Kemampuan Otak Sejak Usia Dini
Anak-anak pada usia dini perlu mendapatkan perhatian sungguh dari semua pihak. Anak pada usia dini sebagai usia dimana anak belum memasuki suatu lembaga pendidikan formal seperti SD dan biasanya mereka tetap tinggal di rumah atau mengikuti kegiatan dalam bentuk berbagai lembaga pendidikan pra sekolah seperti kelompok bermain, taman kanak-kanak dan taman penitipan anak. Ciri anak usia dini mengacu pada teori Piaget dapat dikatakan sebagai usia yang belum dapat dituntut untuk berpikir secara logis (tahapan operasional) yang ditandai dengan pemikiran seperti : Berpikir secara konkrit, dimana kemampuan representasi simbolik yang memungkinkan seseorang untuk memikirkan hal abstrak (seperti cinta atau keadilan) belum dapat dipahaminya. Realisme, yaitu kecenderungan yang kuat untuk menanggapi segala sesuatu sebagai hal yang riil atau nyata Egosentris, yaitu melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mudah menerima penjelasan dari sisi lain Kecenderungan untuk berpikir secara sederhana dan tidak mudah menerima sesuatu yang majemuk Animisme yaitu kecenderungan untuk berpikir bahwa semua obyek di lingkungannya memiliki kualitas kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki anak Sentrasi yaitu kecenderungan untuk mengkonsentrasikan diri hanya pada satu aspek dari suatu situasi Anak usia dini dapat dikatakan memiliki imajinasi yang amat kaya dan imajinasi ini sering dikatakan sebagai awal munculnya bibit kreatifitas pada merekaPada usia dini anak masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan dalam segi termasuk otaknya. Otak merupakan pusat dari intelegensi pada anak. Koestler telah mengemukakan suatu teori tentang istilah belahan otak kiri dan kanan yang tugas dan fungsi, ciri dan responnya berbeda terhadap pengalaman belajar, meskipun tidak dalam arti mutlak. Respon kedua belahan otak ini tidak sama, dan menuntut pada pengalaman belajarnya.
Antara Otak Kanan dan Otak Kiri
Seorang anak secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut intelegensi yang bersumber dari otaknya. Kalau struktur otak telah ditentukan secara biologis, berfungsinya otak tersebut sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya.Otak tersebut terdiri dari dua belahan otak (kiri dan kanan) yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpus callosum. Kedua belahan otak tersebut berfungsi tugas dan responnya berbeda dan seharusnya tumbuh dalam keseimbangan.Pada anak-anak usia dini, maka program yang dilakukan seharusnya adalah upaya memaksimalkan pengembangan otak kanan anak. Hal ini disebabkan bahwa belahan otak kanan lebih banyak berfungsi untuk mengutamakan respon yang terkait dengan persepsi holistik, imajinatif, kreatif dan bisosiatif. Hal ini berbeda dengan otak kiri yang lebih bertugas untuk menangkap persepsi kognitif serta berpikir secara linier, logis, teratur dan lateral. Biasanya fungsi otak kiri lebih pada bidang pengajaran yang verbalistis dengan menekankan pada segi hapalan dan persepsi kognitif saja.Untuk itulah guna mengefektifkan otak kanan anak sejak usia dini maka diperlukan “experiental learning” (belajar berdasarkan pengalaman langsung) untuk anak-anak usia dini guna lebih mengefektifkan fungsi divergennya (dimana anak-anak dibiasakan untuk selalu memberikan ide dan alternatif yang tidak homogen). Hal ini akan berdampak pada anak yang kreatif, suka berpikir beda dan penuh ide.
Ciri-ciri Anak Yang Otak Kanannya Mempunyai Kemampuan LebihAda beberapa ciri yang bisa dilihat pada anak usia dini yang dipercaya sebagai tanda-tanda positif untuk anak yang kreatif.Kemampuan motorik yang lebih awal seperti kemampuan untuk berjalan, memanjat, memakai baju dan sepatu ataupun menyuapi diri sendiri Anak mampu bicara dengan kalimat yang lengkap, kosa kata yang banyak, daya ingat yang baik dan menunjukkan keinginan yang kuat untuk belajar dan hasrat yang besar terhadap buku ataupun gambar-gambar Membandingkan dengan anak yang lainnya. Biasanya akan terlihat dari kecenderungannya untuk menyukai permainan yang merangsang daya khayalnya Adanya daya ingat yang baik, kemampuan coba-salah dan mempu menyenangi dirinya (bersibuk diri) dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana kita dapat mengoptimalkan kemampuan otak kanan anak kita sejak usia dini. Ada beberapa motede yang dapat dipakaiantara lain dengan bermain musik, bermain, menggambar, dan lain-lain.
Upaya Meningkatkan Kemampuan Otak Anak
Beberapa metode telah dikembangkan oleh para ahli dalam upaya meningkatkan kemampuan otak kanan sejak anak usia dini.
- Bermain Musik Salah satunya adalah metode bermain musik oleh Carl Orff (1895) seorang komponis dan pendidik dari Jerman. Bermula dari pengalaman mengelola sekolah musik dan senam, ia mengadakan eksperimen untuk mengaitkan antara musik dan gerak. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa musik pendidikan tidak dapat diberikan pada anak usia dini secara tertutup tapi melalui integrasi antara musik dan gerak. Metode Orff berprinsip bahwa antara bunyi, instrumen, ucapan, kata, kalimat bersajak, cerita dan gerakan tubuh ada dalam satu keutuhan untuk mencapai kesatuan yang harmonis. Orff instrumen sebagai alat-alat musik adalah unik karena merupakan alat musik pukul yang bernada maupun tak bernada. Berdasarkan penelitian ternyata anak di usia dini lebih menyukai Orff instrumen karena alat musik tersebut bagi mereka merupakan suatu bentuk permainan yang memungkinkan mereka untuk bereksplorasi sejauh mungkin terhadap bunyi. Di Indonesia dapat ditemukan seperti angklung, kulintang, calung, kotekan, tambur atau gong. Anak juga dapat bereksplorasi musik dengan botol ditiup, dipukul, sapu, sikat, kentongan dan kertas digetarkan.
- Kreativitas Anak Melalui Gambar, Rhoda Kellog seorang peneliti dan pengarang buku “The Psychology of Children’s Art” dari Amerika Serikat yang menghimpun tidak kurang dari 1 juta gambar anak dari berbagai usia, tingkatan sosial dan kebangsaan di 31 negara dari 5 benua dalam jangka 20 tahun telah menghasilkan beberapa hasil analisanya.Diungkapkannya bahwa setiap anak mulai awal pertumbuhannya (pada usia dini) biasanya memulai dengan periode coreng moreng (sobbling period) sampai akhirnya anak-anak mulai mengembangkan daya ciptanya. Bagi seorang anak menggambar merupakan bentuk permainan yang sebenarnya akan mengasah kemampuan otak kanannya. Ucapan Picasso mungkin harus menjadi renungan kita, “Orang dewasa sebaiknya jangan mengajar anak-anak untuk menggambar, sebaiknya orang dewasalah yang harus belajar dari anak-anak”.
- Alat Permainan Edukatif, Selain musik, upaya pengembangan otak kanan juga dapat dilakukan dengan bermain dengan Alat Permainan Edukatif (APE). Sebetulnya apa itu fungsi alat bermain bagi anak usia dini?. Mainan sekarang ini yang semakin kreatif, mahal dan beraneka macam. Tentunya hal ini akan banyak membuat orang tua bingung. Banyak mainan yang dibuat oleh pabrik yang sebetulnya kurang berfaedah bagi anak-anak karena sebenarnya alat bermain hanyalah alat bantu saja bagi seorang anak dan bukan merupakan indikator mutlak untuk anak berkembang lebih baik. Jadi mahal dan murahnya alat mainan bukanlah merupakan indikator. Anak akan dapat bermain dengan manfaat yang besar apabila orang tua dapat mengetahui sisi kegunaannya mainan tersebut.
Ada mainan anak yang disebut APE atau Alat Permainan Edukatif yaitu, golongan mainan yang bersifat edukatif atau dapat memenuhi syarat sebagai perangsang bagi anak untuk terjadinya proses belajar anak. Cirinya adalah: Dapat merangsang anak secara aktif berpartisipasi dalam proses, tidak hanya diam secara pasif melihat saja Bentuk mainan tersebut biasanya “unstrusure” sehingga dimungkinkan bagi anak untuk membentuk, merubah, mengembangkan sesuai dengan imajinasinya Dibuat dengan tujuan atau pengembangan tertentu, sesuai dengan target usia anak tertentu.Selain faktor tersebut diatas, harus dilihat usia anak kita. Untuk itu harus dipilih jenis mainan yang diperlukan bagi anak kita. Misalnya pilihlah mainan anak yang dapat mengembangkan motorik kasar bagi perkembangan kritis kemampuan berjalan, misalnya mainan yang ditarik.Salah satu kriteria mainan itu adalah dicantumkan petunjuk mainan tersebut untuk mengembangkan fungsi apa dan juga disertai rekomendasi bagi usia berapa, menginat ada bahaya yang siap mengancam anak-anak kita.Secara teoritis kita dapat membagi aktivitas anak dalam bermain ini menjadi 4 macam yaitu :
- Bermain fisik, merupakan kegiatan bermain yang berkaitan dengan upaya pengembangan aspek motorik anak seperti berlari, melompat, memanjat, berayun-ayun
- Bermain kreatif, merupakan bentuk bermain yang erat hubungannya dengan pengembangan kreatifitas seperti menyusun balok, bermain dengan lilin atau pasir, melukis dengan jari dan sebagainya
- Bermain imajinatif merupakan kegiatan bermain yang menyertakan fantasi anak seperti bermain sandiwara dimana anak dapat mengembangkan imajinasi dengan peran yang berbeda-beda
- Bermain manipulasi, merupakan kegiatan bermain yang menggunakan alat tertentu seperti gunting, obeng, palu, lem, kertas lipat dan sebagainya untuk mengembangkan kemampuan khusus anak.Bermain yang menyenangkan bagi anak ini kan memberikan rasa aman dan bebas secara psikologis, suatu kondisi yang amat dibutuhkan bagi upaya pengembangan kreatifitas anak. Disamping itu, bermain yang merupakan kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan guna menemukan sesuatu dengan cara baru, memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengekspresikan dorongan kreatifnya.
Perenungan
Banyak kekhawatiran dan ketidak mengertian orang tua yang kadangkala menjadi bumerang bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya sejak usia dini. Keinginan orang tua yang harus dilakukan oleh anak-anak, tidak jarang membuat anak-anak di usia dini sudah menjadi orang dewasa mini. Hal ini tidak lain karena orang tua yang terlalu khawatir dengan pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Sifat over protektif juga kadang sering menghambat kemampuan anak sejak dini berkembang.Bahkan kadangkala orang tua seringka kali takut dengan IQ. Mereka sering kali bertanya apakah anak yang kemampuan otak kanannya lebih terasa IQnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain ? Pertanyaan ini sebetulnya mudah dijawab, karena menurut penelitian Terman 1 – 2 % anak yang seperti itu memiliki IQ tinggi yaitu 140. Namun orang tua sekarang juga harus ingat, bahwa tidak hanya IQ yang akan menentukan keberhasilan anak-anak kita. Kemampuan EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient) dan yang paling akhir adalah ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) ternyata lebih menunjang di kemudian hari. Hal ini berarti orang juga harus tetap mendidik anak-anak sejak usia dini dengan tidak meninggalkan komunitas, lingkungan keluarga, belajar dan bermain serta meningkatkan kesadaran anak terhadap fitrah manusia sejak dini (God Spot) yang berarti anak tidak terlepas dari asas hubungan antar manusia, lingkungan dan Tuhannya
Akhirnya kita berharap anak Indonesia masa adalah anak-anak yang kreatif, penuh ide, tidak terlepasdari hubungan antar manusia, lingkungan dan Tuhannya. Bila hal itu dilakukan, kiranya akan tumbuh anak-anak kreatif yang mampu memiliki berbagai visi dan wawasan dalam pengembangan pribadi yang utuh dan bermanfaat bagi dirinya di kelak kemudian hari.
Motivasi Belajar Melalui Mainan
Contoh Alat permainan Edukatif. Dengan Puzzle jari tangan ini diharapkan anak dapat mengetahui nama-nama jari (ibu jari, telunjuk, tengah, manis, kelingking) dan dapat menyusun dengan menempelkannya secara berurutan.
Seperti bekerja bagi orang dewasa, bermain adalah pekerjaan bagi anak. Melalui bermain, si kecil belajar tentang dunia dan sekelilingnya. Ia memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan dan mengembangkan keterampilan, nilai, sikap, toleransi serta pemahaman. Bermain pun menjadi cara untuk mengeskpresikan perasaan dan emosi, lebih cepat dibandingkan menyampaikan ekspresi secara verbal.Sebagai alat untuk bermain, pemilihan mainan dan materi bermain sangat penting agar manfaatnya optimal. Mainan melimpah tak ada gunanya jika mainan tidak memiliki nilai edukatif. Artinya, mainan tersebut memberikan kenikmatan bermain sekaligus peluang belajar. Mainan ini dirancang khusus untuk mendorong anak menemukan hal baru atau menguasai keterampilan dan konsep tertentu. Namun tidak berarti pula Anda harus menjejali si kecil dengan mainan edukatif. Mainan jenis ini hanya salah satu faktor pendukung untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak. Si kecil pun perlu bermain dengan mainan ‘biasa’. Misalnya boneka, mobil-mobilan, rumah-rumahan, atau alat rumah tangga mainan. Meskipun bukan tipe edukatif, mainan ini bisa memberikan pengetahuan baru untuk melengkapi kecerdasan majemuk anak. Bermain boneka, misalnya, mendorong kemampuan berimajinasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Sesuai usia anak
Lima tahun pertama merupakan periode emas perkembangan otak anak. Pada masa itu, ia membutuhkan banyak stimulasi. Semakin banyak stimulasi yang diberikan, hubungan koneksi antarsaraf semakin banyak. Artinya, anak semakin cerdas. Salah satu bentuk stimulasinya mainan. Anda bisa memberikan mainan sejak dini namun tak berarti sejak bayi. “Orangtua adalah alat permainan bayi. Artinya, bayi lebih baik bermain dengan orangtuanya,” jelas Dra Mayke S. Tedjasputra, Msi, psikolog dari Fakultas Psikologi UI. Anda boleh mengenalkan mainan edukatif sejak anak berusia 1-1,5 tahun. Pada usia ini, si kecil sudah mampu memahami sebuah konsep meskipun kemampuan berbicaranya belum jelas.Yang perlu Anda perhatikan ketika memilih mainan adalah kesesuaian mainan dengan usia anak. Usia menunjukkan tahap perkembangan si kecil, baik fisik maupun mental. Mainan yang terlalu sulit membuat anak frustasi. Sebaliknya jika terlalu mudah, mainan tidak lagi menarik bagi si kecil. Misalnya, single puzzle atau bola/kubus yang memiliki lubang berbentuk kotak, lingkaran atau segitiga. Mainan ini sesuai untuk anak usia 1 tahun. Untuk mempermudah Anda memilih mainan, beberapa produsen mainan mencantumkan kategori usia di setiap kemasan mainan.
Perhatikan kesiapan anak
Meskipun anak usia 1 tahun mulai berkenalan dengan mainan edukatif, Anda tidak boleh memaksakan kehendak. “Setiap anak berbeda-beda,” terapis bermain ini mengingatkan. Ada yang sudah siap dan menyukai mainan, ada pula yang tidak. “Prinsipnya, kegiatan bermain tidak membuat anak merasa terpaksa atau dipaksa. Sebab, dampaknya sangat buruk bagi perkembangan anak,” tambah Mayke.Beberapa anak memiliki gerakan motorik yang lebih kasarnya. Artinya, ia lebih menyukai aktivitas fisik seperti melompat, memanjat, jongkok atau lari. Jika si kecil dipaksa untuk bermain yang membutuhkan motorik halus dan konsentrasi, ia belum cukup matang walaupun usianya sama. “Orangtua harus peka melihat kesiapan anak untuk bermain,” tandas Mayke. Anak yang siap biasanya langsung tertarik dan mencoba memainkan begitu mainan diberikan. Sedangkan anak yang belum siap tampak tidak tertarik ketika mainan disodorkan kepadanya. Perhatikan pula kondisi anak apakah ia mengantuk, sakit atau bosan.Se-edukatif apapun sebuah mainan, tidak akan berguna jika tidak dimainkan. Bisa jadi tujuan edukasinya malah tidak tercapai. Jika anak-anak tidak menyukai dan menikmati mainannya, ia tak akan pernah memainkannya. Padahal, kemampuan belajar anak meningkat ketika ia bisa menikmatinya. Karenanya, jangan melupakan faktor ‘menyenangkan’ dari sebuah mainan. “Anak juga perlu diberi kesempatan untuk melakukan aktivitasnya,” tutur Mayke.Mainan hanyalah alat. Keterlibatan Anda dalam proses bermain anak memainkan peran penting, tetapi bukan mengaturnya. Biarkan anak mencoba dulu. Jika ia tidak juga mengerti atau bingung, Anda cukup memberikan petunjuk. “Orangtua hanya menjadi pijakan, anak yang harus mencari jalan keluarnya,” jelas Mayke. Petunjuk Anda membantu anak mengembangkan imajinasinya. Selain itu, Anda dan si kecil memiliki peluang untuk menciptakan kenangan masa kecil yang indah.
Meskipun anak usia 1 tahun mulai berkenalan dengan mainan edukatif, Anda tidak boleh memaksakan kehendak. “Setiap anak berbeda-beda,” terapis bermain ini mengingatkan. Ada yang sudah siap dan menyukai mainan, ada pula yang tidak. “Prinsipnya, kegiatan bermain tidak membuat anak merasa terpaksa atau dipaksa. Sebab, dampaknya sangat buruk bagi perkembangan anak,” tambah Mayke.Beberapa anak memiliki gerakan motorik yang lebih kasarnya. Artinya, ia lebih menyukai aktivitas fisik seperti melompat, memanjat, jongkok atau lari. Jika si kecil dipaksa untuk bermain yang membutuhkan motorik halus dan konsentrasi, ia belum cukup matang walaupun usianya sama. “Orangtua harus peka melihat kesiapan anak untuk bermain,” tandas Mayke. Anak yang siap biasanya langsung tertarik dan mencoba memainkan begitu mainan diberikan. Sedangkan anak yang belum siap tampak tidak tertarik ketika mainan disodorkan kepadanya. Perhatikan pula kondisi anak apakah ia mengantuk, sakit atau bosan.Se-edukatif apapun sebuah mainan, tidak akan berguna jika tidak dimainkan. Bisa jadi tujuan edukasinya malah tidak tercapai. Jika anak-anak tidak menyukai dan menikmati mainannya, ia tak akan pernah memainkannya. Padahal, kemampuan belajar anak meningkat ketika ia bisa menikmatinya. Karenanya, jangan melupakan faktor ‘menyenangkan’ dari sebuah mainan. “Anak juga perlu diberi kesempatan untuk melakukan aktivitasnya,” tutur Mayke.Mainan hanyalah alat. Keterlibatan Anda dalam proses bermain anak memainkan peran penting, tetapi bukan mengaturnya. Biarkan anak mencoba dulu. Jika ia tidak juga mengerti atau bingung, Anda cukup memberikan petunjuk. “Orangtua hanya menjadi pijakan, anak yang harus mencari jalan keluarnya,” jelas Mayke. Petunjuk Anda membantu anak mengembangkan imajinasinya. Selain itu, Anda dan si kecil memiliki peluang untuk menciptakan kenangan masa kecil yang indah.
Tak ada mainan, permainan jadilah
Mainan edukatif tak harus mahal. Bermain juga tidak berarti harus ada alat-alat khusus. Permainan bisa menjadi alternatifnya. Melalui alat-alat sederhana di sekitar rumah dan sedikit kreativitas, ciptakan permainan atau mainan yang mendorong tumbuh-kembang si kecil. Misalnya permainan petak umpet menggunakan kolong meja atau membuat pesawat dari kertas.Permainan yang mahal, seperti computer games, justru tidak membawa manfaat. Jenis permainan ini disebut sebagai pemicu agresivitas pada anak. Sebab, computer games umumnya membawa nilai-nilai kekerasan dan membuat anak menjadi anti sosial. Pun dengan mengajak anak bermain di mal. Menurut Mayke, kebiasaan ini hanya akan mendorong sifat konsumerisme pada anak.
Mainan edukatif tak harus mahal. Bermain juga tidak berarti harus ada alat-alat khusus. Permainan bisa menjadi alternatifnya. Melalui alat-alat sederhana di sekitar rumah dan sedikit kreativitas, ciptakan permainan atau mainan yang mendorong tumbuh-kembang si kecil. Misalnya permainan petak umpet menggunakan kolong meja atau membuat pesawat dari kertas.Permainan yang mahal, seperti computer games, justru tidak membawa manfaat. Jenis permainan ini disebut sebagai pemicu agresivitas pada anak. Sebab, computer games umumnya membawa nilai-nilai kekerasan dan membuat anak menjadi anti sosial. Pun dengan mengajak anak bermain di mal. Menurut Mayke, kebiasaan ini hanya akan mendorong sifat konsumerisme pada anak.
Ciri-Ciri Mainan Edukatif
- Dibuat untuk merangsang kemampuan dasar pada balita.
- Memiliki banyak fungsi. Artinya, ada beberapa variasi mainan di dalam satu mainan sehingga stimulasi yang diperoleh anak pun beragam.
- Mendorong kemampuan pemecahan masalah. Contohnya mainan bongkar-pasang.
- Melatih ketelitian dan ketekunan anak. Tak sekadar menikmati, tetapi si kecil juga dituntut ketelitiannya saat memainkannya.
- Melatih konsep dasar. Artinya, anak-anak bisa mengenal dan mengembangkan kemampuan dasar seperti bentuk, warna, tekstur, besaran. Selain itu, mainan edukatif mampu melatih motorik halus.
- Merangsang kreativitas anak. Anak-anak semakin kreatif melalui variasi mainan yang dilakukan.
